DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Jumat, 14 September 2012

KECINTAAN SISWA PADA GURU


KECINTAAN SISWA
PADA GURU

Ada sebuah kisah nyata. Seorang teman saya yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar mendapat hadiah dan surat dari seorang siswanya. Hal itu dilakukan sang siswa tepat pada hari ulang tahun teman saya itu. Sang siswa memberikannya dengan malu–malu beberapa saat setelah kegiatan belajar di sekolah selesai. Surat itu berisi sebagai berikut (nama siswa dan guru diganti) :


Surat dari Wati untuk guruku tersayang Bu Suci.
Selamat ulang tahun Bu Suci. Semoga Bu Suci panjang umur. Semoga juga Bu Suci tambah sabar, kuat Islamnya, kuat imannya, diberi kesehatan, dll.
Bu Suci, walaupun kadonya cuma sederhana nggak papa kan? Karna uangku hanya cukup membeli barang ini. Semoga Bu Suci senang dengan barang yang Wati beli dari sisa uang jajan. Maafin segala kesalahan Wati ya Bu Suci.
Wati cinta Bu Suci.
Salam buat keluarga Bu Suci.
Pesan : Bu, jangan lupakan Wati ya, Bu walau sampai mati dan insya-allah Wati juga akan mengingat Bu Suci sampai mati karna Bu Suci guru Wati yang paling Wati sayang.
Wati.
Bersama surat ada ada sebuah kotak kecil berisi sepasang kaos kaki mungil untuk sang guru.
            Setelah membaca surat itu, hati penulis tersentuh, batin penulis terharu. Pikiran dan perasaan penulis mulai berjalan. Betapa amat sayangnya siswa itu pada gurunya. Betapa, di jaman yang sudah sedemikian bebas dan maju, masih ada siswa yang begitu perhatian dengan gurunya. Penulis yakin, peristiwa itu adalah peristiwa langka yang terjadi di sebuah sekolah pada jaman ini.
            Surat cinta itu tentu saja tidak hadir secara tiba–tiba. Pasti ada sesuatu yang membuat seorang siswa begitu mencintai gurunya. Pasti ada penyebab yang mendorong seorang siswa memberikan hadiah ulang tahun untuk gurunya. Sesuatu itu tentu tidak ada dengan mudah. Cinta sang siswa itu tentu tidak muncul dengan tiba - tiba. Hubungan batin yang begitu kuat hanya akan ada ketika dibangun dengan kesungguhan dan waktu yang lama.
            Guru itu telah bekerja dengan sangat baik. Paling tidak ia telah memulai tugas mendidik dengan benar, yaitu bagaimana agar siswa mencintainya. Karena salah satu kaidah pokok dalam pendidikan adalah hubungan emosional yang harmonis antara guru dengan siswa sebelum pembelajaran dilaksanakan. Hubungan yang harmonis itu tentu saja tidak dibangun hanya di awal pembelajaran, namun dibangun sepanjang proses pendidikan.
            Hubungan emosional yang kuat pada awal pendidikan adalah modal belajar. Dengan hubungan yang baik, seorang siswa akan dengan mudah menerima pesan- pesan dari guru. Hubungan yang baik akan membuka hati siswa dan guru. Dengan demikian yang terjadi dalam proses belajar tidak sekedar komunikasi memberi dan menerima ilmu, namun juga melibatkan komunikasi batin. Dengan perasaan siswa yang senang dan suasana batin yang penuh kemesraan, maka kegiatan belajar akan berjalan dengan lebih mudah dan nyaman.
            Apabila proses tersebut berjalan dengan baik, berkesinambungan dan dalam jangka waktu yang lama, maka lahirlah cinta sejati sang siswa kepada gurunya. Kado dan surat di atas adalah contoh nyata, pengungkapan secara tertulis perasaan seorang siswa yang begitu mencintai gurunya. Tentu saja cinta yang diperoleh guru dari siswanya tidak diperoleh dengan mudah. Cinta itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan perjuangan yang sungguh–sungguh. Cinta itu tentu saja didapat dengan ketekunan, kasing sayang, dan kesabaran dari para guru terhadap siswa–siswinya.
            Seorang guru senior di sebuah sekolah dasar pernah memberi nasehat dalam sebuah pelatihan guru yang intinya adalah: jadilah guru dengan sepenuh hati dan totalitas, karena anak akan tahu, siapa guru yang totalitas dan mana yang setengah–setengah.
Nasehat itu penulis rasa sangat relevan dengan peristiwa surat cinta seorang siswa kepada gurunya di atas. Pasti anak itu tahu sang guru telah mendidik dengan kesungguhan dan totalitas, sehingga iapun membalasnya dengan totalitas juga. Maka sang anakpun rela ketika harus mengorbankan sebagian uang jajannya untuk dibelikan hadiah buat gurunya tercinta.         
            Semoga semua guru yang ada negeri ini seperti teman penulis itu. Penulis salut kepadanya.
Dimuat di majalah Bakti Kemenag DIY edisi September 2012.


4 komentar:

  1. Makasih Pak Adib..tulisannya bagus.
    Semoga kita bisa menjadi guru yang dicintai siswa-siswanya. Amin

    BalasHapus
  2. Siapa ya guru yang hebat itu? Bagaimana caranya agar bisa seperti itu?

    BalasHapus
  3. ketika saya pindah dari sebuah SD, saya diberi sebutir jagung dan sebuah surat oleh siswa sambil menangis tersedu2.
    sebutir jagung, membuat saya merenung lamaaaa sekali. akhirnya saya simpulkan satu butir jagung jika ditanam akan menghasilkan puluhan jagung, saya analogikan dg kebaikan satu kebaikan akan menghasilkan seribu kebaikan yg lain. harapan dan doa yang luar biasa..

    BalasHapus
  4. Aku ingin jadi guru yang dicintai para siswa. Semoga aku bisa!

    BalasHapus