DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Senin, 30 April 2012

Konsultasi: Bolehkah siswa berjualan di sekolah

Pertanyaan via sms :

Pak, sebenarnya boleh tidak sih seorang siswa berjualan di sekolah? Kalau tidak boleh alasannya apa? Terima kasih.

Jawab :

Pengirim sms tersebut adalah seorang guru SD. Secara umum boleh tidaknya siswa berjualan di sekolah adalah menjadi kebijakan pimpinan sekolah dan para guru. Akan lebih baik lagi bila kebijakan tersebut dimasukkan dalam salah satu bagian dari tata tertib sekolah.

Boleh tidaknya siswa berjualan sangat tergantung beberapa faktor. Ada sebuah SD yang cukup disiplin. SD ini melarang siswa membawa uang sehingga siswa tidak mungkin untuk membeli jajan pada saat jam sekolah. Otomatis, tidak akan ada pedagang jajanan yang datang ke sekolah tersebut pada jam belajar karena tidak akan ada siswa yang membeli .

Lalu bagaimana kalu para siswa tersebut ingin minum dan makan snack? Sekolah tersebut telah menyediakan snack dan minum setiap hari. Para siswa kemudian membayarnya setiap bulan sekali.

Manfaat dari kebijakan ini adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi anak lebih terjaga, karena sekolah bisa selektif dalam memilih makanan. 

Kebijakan seperti ini cukup beralasan, mengingat pada jaman sekarang banyak penjual jajanan yang tidak sehat dan tidak  baik bagi pertumbuhan siswa. Di sisi lain, orang tua akan lebih terbantu dalam memberi uang jajan kepada anaknya, karena tidak perlu memberi uang saku setiap hari sebelum berangkat sekolah.

Sekolah tersebut juga masih member toleransi bagi para siswa. Para siswa diperbolehkan membawa minuman dan snack dari rumah apabila dirasa yang disediakan sekolah belum mencukupi. Dengan catatan, kualitas minuman dan sncak tersebut menjadi tanggung jawab orang tua untuk menyiapkan dan menentukannya.

Jadi siswa tidak bisa belajar berjualan dong? Sekolah bisa memberikan solusi dengan cara lain. Misalnya setiap bulan sekali mengadakan market day.  
Pada hari tersebut, para siswa memang dilatih untuk berjualan. Mereka diminta membawa  berbagai jenis makanan dan mainan yang bisa dijual kepada temannya yang lain. Para siswa juga diperbolehkan membawa uang untuk membeli apa-apa yang mereka sukai.

Itu gambaran untuk sekolah yang melarang siswanya membawa uang saku. Lalu, bagaimana dengan sekolah yang membolehkan siswanya membawa uang saku?

Otomatis akan ada yang berjualan di sekolah. Ada sekolah yang longgar yaitu setiap pedagang boleh berjualan. Umumnya mereka datang saat jam istirahat. Para siswa langsung menyerbu mereka begitu bel berbunyi. Untuk kasus seperti kini, kualitas makanan menjadi hal yang sangat beresiko.

Ada sekolah yang lebih ketat. Pedagang luar tidak diperbolehkan berjualan di lingkungan sekolah. Sebagai gantinya, sekolah membuka kantin yang dikelola sendiri. Harapannya, apa-apa yang dijual bisa dikontrol kualitasnya. Di sisi lain, kantin ini juga bisa menjadi sumber pendapatan sekolah atau penjaga sekolah.

Untuk tipe sekolah seperti ini,  para siswa sangat mungkin berjualan juga di sekolah. Siswa yang ingin menjual jajanannya, bisa titip di kantin sekolah. Nanti keuntungannya dibagi dengan pihak kantin. Tetapi model ini juga ada resikonya.

Apa resikonya? Terkadang ketika satu atau dua siswa mencoba dan berhasil, maka ada siswa lain atau mungkin orang tua siswa yang juga tertarik. Akhirnya mereka ikut-ikutan menitip jajanan di sekolah.

Akibatnya adalah kantin kebanjiran titipan dari siswa atau wali siswa. Bila kondisi ini terjadi maka akan terjadi persaingan jajanan. Dan boleh jadi karena jumlah jajanan melebihi kemampuan siswa membeli, maka akan banyak jajanan yang tidak habis terjual.

Keadaan tersebut akan merugikan semuanya. Dari tujuan semula yang hanya sebagai latihan siswa berjualan, menjadi lebih menjurus ke arah komersial untuk mendapatkan keuntungan.

Atau siswa yang ingin berjualan tidak perlu menitip di kantin, tetapi cukup dibawa dan diedarkan sendiri oleh siswa tersebut? Ini juga sebuah pilihan model. Mereka akan benar-benar berlatih karena menjual sendiri, memasarkan sendiri, melayani dan mengelola uang sendiri.

Pilihan model ini juga ada resikonya. Bagaimana kalau banyak siswa yang berjualan? Dan setiap hari mereka menjajakan jajanan di sekolah? Bisa jadi akan mengganggu tugas utamanya yaitu belajar. Bisa jadi karena kelelahan berjualan, maka pada jam pelajaran berikutnya siswa tersebut kurang bisa berkonsentrasi.

Ternyata demam berjualan di sekolah tidak hanya melanda siswa dan wali siswa. Bahkan, para guru pun ada yang ikut  tertarik untuk berjualan dengan menitip di kantin sekolah. Mereka ada yang membuat makanan ringan pada pagi hari sebelum berangkat mengajar.

Keadaan tersebut juga bisa berakibat kurang baik. Sangat boleh jadi, guru tersebut akan datang terlambat karena masih harus menyiapkan jajanan yang akan dititipkan di kantin.

Solusi pertama masalah ini adalah dikembalikan kepada orang tuanya. Siswa yang berjualan kemungkinan adalah anjuran dan arahan dari orang tuanya. Motifnya beragam. Ada yang memang hanya untuk latihan, tetapi ada juga yang benar-benar untuk mendapatkan keuntungan karena kemampuan orangtuanya terbatas.   

Solusi kedua adalah dikembalikan kepada pihak pimpinan sekolah. Mau memilih model sekolah yang mana. Kalau memilih model pertama, di mana para siswa tidak boleh membawa uang saku, maka jawabannya sudah jelas. Tidak ada celah bagi siswa dan wali siswa berjualan karena siswa tidak membawa uang saku.

 Tetapi kalau memilih model kedua, di mana siswa boleh membawa uang saku, maka ada kesempatan siswa atau wali siswa untuk berpartisipasi berjualan.
Maka pihak sekolah perlu membuat aturan yang jelas dan tegas. Misalnya: siswa hanya boleh jajan di kantin dan melarang pedagang luar untuk masuk lingkungan sekolah. Adapun siswa dan wali siswa yang ingin berjualan harus diatur mekanismenya. Mereka hanya boleh menitip di kantin dan tidak boleh dijual sendiri agar lebih tertib.

Apabila banyak siswa atau wali siswa yang ingin berjualan, bisa juga dibuat 
jadwal. Seorang siswa hanya mendapat jatah 3 hari dalam sepekan misalnya.
Atau sekolah tetap memilih model kedua tetapi dengan membuat aturan sisw hanya boleh membeli di kantin. Sedangkan siswa atau wali siswa secara tegas tidak diperbolehkan berjualan.

Terlepas dari model apa yang akan kita pilih, secara pribadi untuk tingkat SD saya lebih cenderung pada model yang pertama di mana siswa tidak perlu membawa uang saku di sekolah. Sebagai gantinya sekolah menyediakan minum dan snack dan orang tua membayar setiap bulan sekali.  Hal ini masih ditambah kelonggaran yaitu orang tua boleh menambah dengan membawakan minum dan snack sebagai bekal dari rumah.

Adapun untuk melatih siswa berjualan, sekolah dan orang tua siswa perlu kreatif untuk mencari ruang dan bentuk yang lain. Prinsipnya sekolah setuju dengan pendidikan wira usaha bagi siswa, hanya modelnya saja yang perlu dibuat lebih efektif dan efisien.

Wallahu a’lam bish-shawab.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar