DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Senin, 09 Januari 2012

Selamat Jalan Pak Kyai

Pagi itu, hp-ku berdering. Bapak menelepon. Pasti ada sesuatu yang penting, batinku. Bapak berbicara cukup singkat. ”Pak Kyai Noor Sebayu meninggal dunia pada pagi ini jam 05.30 WIB. ”. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Deg, sesaat aku terdiam mencoba merenungi berita yang baru saja bapak sampaikan. Bapak dan aku bukan siapa –siapanya Pak Kyai Noor. Namun, aku tahu dan turut merasakan, rasa cinta yang mendalam dari diri bapak pada Pak Kyai, yang kemudian rasa cinta itu bapak kenalkan dan wariskan kepadaku secara perlahan, termasuk dengan telpon di pagi itu. 


Terlintas kenangan masa lalu bersama Pak Kyai. Aku teringat di album foto keluarga yang masih tersimpan rapi hingga hari ini. Pak Kyai Noor lah yang mengisi acara taushiyah dalam acara walimahan pernikahan bapak dan ibuku di tahun 1977. Kuingat wajahnya yang masih segar di usia 60-an tahun saat itu. Bapak sering bercerita tentang masa mudanya. Dan, cerita masa muda bapak ternyata tidak bisa dilepaskan dari figur Kyai Noor Sebayu. Bahkan, bapak bisa mengenal seorang gadis Magelang yang sekarang menjadi ibuku, karena dikenalkan oleh seorang teman sesama santri pengajian Pak Kyai Noor. Ternyata teman pengajian bapak itu adalah kakak dari ibuku. Pada usia TK atau SD, aku sering sekali diajak atau aku memaksa untuk ikut bapak, menghadiri pengajian ahad pagi di Masjid Al Muttaqin Ganjuran, di pinggir Jalan Magelang. Pengajian itu banyak diasuh oleh Pak Kyai. Aku menjadi sangat hafal dengan gaya penyampaian materi dari Pak Kyai. Biasanya, setelah mengisi pengajian ahad pagi itu, Pak Kyai terus menuju ke rumah utara masjid, rumahnya Bapak Wasyim Waskito Siraj. Aku sendiri tidak bisa diam mengikuti pengajian Pak Kyai. Rasanya aku lebih banyak bermain di bagian dalam masjid yang cukup luas, termasuk sering bermain di mimbar. Aku masih ingat bentuknya yang unik, berwarna biru dan kuning. Mimbar itu adalah mimbar kenanganku. Entah, sekarang ke mana mimbar itu. Sekarang, Masjid Al Muttaqin telah mengalami banyak perubahan, sehingga merubah wajah masjid.

Kenangan berikutnya tentang Pak Kyai adalah kuliah Shubuh. Hampir selalu, setiap pagi mulai jam 05.00 sampai jam 05.30 WIB, menu wajib di keluarga kami sejak aku kecil adalah menghidupkan radio, membunyikan dengan agak keras suara kuliah shubuh dari chanel AM, Radio PTDI Medari Medari. Di saat itulah, Pak Kyai menyapa kami, juga beratus – bahkan beribu kaum muslimin di Sleman, Yogyakarta dan Magelang yang selalu setia mendengarkan ceramah – ceramahnya. Kami tidak berada terus di depan radio. Ibu biasanya mendengarkan sambil memasak. Aku dan kakakku biasanya sambil bersiap–seiap untuk belajar di sekolah. Bapak mendengarnya sambil menyelesaikan tugas-tugas rumah di pagi hari. Dulu, bapak juga mengkoleksi puluhan kaset ceramah Pak Kyai di rumah. Entah sekarang, di mana kaset – kaset sejarah itu. Aku masih yakin, beberapa masih ada di bifet di rumah.

Ada cara lain yang dilakukan Bapak untuk mengenalkanku sekaligus membangunkan cintaku pada Pak Kyai. Setiap Idul Fitri tiba, biasanya kami sekeluarga sowan ke Pak Kyai pada hari pertama jam 16-an. Kami diterima di ruang tamu. Kami biasanya bertemu dengan Pak Kyai, istrinya, dan keluarga besarnya. Di ruang tamu itu pula, aku bersama teman – teman angkatan muda Islam di Sleman termasuk putranya Pak Kyai, Mas Ishaq Noor Khazain, kadang kala mengadakan rapat, membahas lomba takbir keliling, persiapan sholat Id, atau agenda-agenda dakwah yang lain.

Cinta itu lambat laun semakin tumbuh di keluarga kami. Pak Kyai menjadi referensi utama bagi keluarga kami dalam mengenal Islam. Kadang kala, kalau ibuku atau bapakku kutanya berbagai tentang Islam, mereka akan menjawab dengan diawali kalimat : ” menurut penjelasan Pak Kyai Noor, bla bla bla .....”.

Pak Kyai juga tdak bisa dilepaskan dari Masjid Sebayu. Beberapa kali aku mengikuti shalat berjamaah bersama beliau di masjid itu. Sebuah shalat yang amat sakral, pelan, dan lumayan lama untuk ukuran umum. Sholat berjamaah bersama beliau telah mengalirkan strategi ketenangan jiwa, kepasrahan hati dan kejernihan piikiran. Sebuah shalat yang mampu menghidupkan iman dan menyadarkan arti penting kehidupan.

Di masjid itu pula, pada tahun 90-an, anak-anak muda Islam yang sadar akan agamanya dan merasa harus tanggung jawab pada umatnya, digembleng dan dididik. Mereka mengikuti kajian–kajian, training–training, juga malam – malam ruhiyyah atau mabit. Kini, anak–anak muda itu sebagiannya telah menjelma menjadi pengggerak dakwah Islam di Sleman ini. Aku yakin, Pak Kusnanto,SH, ketua Yayasan Bakti Insani dan Pak Suparman,S,Pd, M.Si, pembina Yayasan Bakti Insani adalah dua di antara sekian anak muda yang dulu pernah merasakan dinginnya angin malam di serambi Masjid Sebayu saat mengikuti mabit atau pegalnya kaki saat sujud dalam shalat berjamaah.

Kini semua itu tinggal kenangan. Pak Kyai telah pergi meninggalkan kita di dunia ini. Tidak ada lagi pengajian dan shalat berjamaah bersama beliau. Yang kini ada adalah warisan semangat, ilmu dan peradaban. Selamat jalan Kyai Muhammad Noor, BA. Semoga kami bisa melanjutkan perjuanganmu. Amin.

*Turi, 2010, Pak Kyai Noor Sebayu dalam memori cinta kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar