DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Senin, 09 Januari 2012

Sebuah Malam Di Pakem

Anakku yang pertama sudah tertidur dengan lelap. Sementara itu, anakku yang kedua masih terjaga bersama ibunya. Sudah tiga hari ini, anakku yang kedua sakit flu. Istriku dengan mata sayu dan tubuh kelelahan masih berupaya menjaganya. Maklum saja, seharian ini, istriku padat agendanya. Mulai dari bersih – bersih rumah, menghadiri walimahan dan mengikuti pengajian rutin ibu – ibu di kampung pada sore harinya. Kuhampiri istriku di pembaringan. Istriku segera menyapa: ”Berangkatlah, Pak. Biar anak ini saya yang menjaganya. ” Pukul 20.20, aku pun menghidupkan motor, menembus malam berangkat ke Pakem.



Seharusnya malam ini aku berada di rumah. Namun rencana itu berubah, karena sebuah sms yang aku terima tadi siang saat di walimahan. Smsnya sudah kuhapus, namun isinya aku masih ingat : ”Ustadz, nanti malam dimohon mengisi taushiyah di pengajian teman – temanku di Rumah Pak Dana, Kumendung. ” Sms itu dikirim dari Pak Hari, temanku di Pakem yang aku kenal setahun yang lalu. Akupun menyampaikan isi sms itu pada istriku. Istriku tidak melarang. Berarti aku bisa keluar rumah malam ini, untuk kembali belajar ber-Islam, merajut impian dakwah yang kian lama kian berat tantangannya.

Aku sempat tersenyum geli membaca ulang sms itu. Aneh rasanya dan sangat jarang aku dipanggil ustadz. Padahal aku bukan seorang lulusan pesantren. Aku juga bukan orang yang sering mengisi pengajian. Namun, aku tetap berprasangka baik dengan sms itu. Mungkin itu ungkapan harapan dari Pak Hari agar aku kelak menjadi seorang ustadz. Atau, mungkin juga itu adalah sapaan wajar bagi seorang guru SDIT, karena memang umumnya para siswa di sekolah – sekolah IT memanggil gurunya dengan panggilan ustadz.

Lepas dari semua itu, tentu saja aku tidak layak disebut ustadz oleh Pak Hari. Bahkan sebaliknya, mungkin dialah yang layak disebut ustadz, karena lewat kepandaiannya bergaul, banyak orang bisa mengenal Islam lebih baik dan aktif di majlis taklim yang ia pelopori. Pak Hari bukan lulusan pesantren. Pekerjaannya sehari–hari adalah buruh di peternakan ayam. Namun, kalau sudah berbincang tentang bagaimana cara mengajak orang pada kebaikan, semangatnya bahkan bisa melebihi alumni IAIN atau lulusan Al Azhar Kairo sekalipun.

Kutinggalkan juga anak keduaku yang masih terjaga bersama ibunya. Semoga saja, ia lekas sembuh dan ibunya juga segera pulih lelahnya. Jalan raya Turi Pakem pun kulalui. Dusun Kumendung relatif tidak jauh, hanya sekitar 6 kilometer. Akhirnya aku tiba di rumah Pak Dana, tempat pengajian itu dilangsungkan. Sebelum aku berbincang banyak, Pak Hari telah memberi informasi awal, yaitu : ” Maaf Pak, yang hadir tidak banyak ”.

Benar kata Pak Hari. Peserta yang hadir dalam majlis taklim lapanan yang dipeloporinya itu sedikit. Setelah waktunya tiba, aku sampaikan kepada yang hadir, bahwa aku tidak akan memberi pengajian, tetapi hanya mengajak belajar bersama tentang Islam. Apalagi, sebagian peserta yang hadir itu adalah orang–orang yang sering mengisi ataupun mempelopori pengajian. Misalnya, Pak Ahmad adalah seorang Rois. Pekerjaanya petani. Ada juga Pak Parjono, juga menjabat rois. Pekerjaannya adalah buruh peternakan.

Kumulai materiku dengan membaca tarjamah Surat Al Baqoroh ayat 282 tentang pentingnya pencatatan hutang pihutang. Aku menekankan kepada semua peserta akan arti pentingnya catatan. Setelah aku menyampaikan materi, para peserta pun ikut meramaikan diskusi malam itu dengan menyampaikan pendapat–pendapatnya yang apa adanya. Diskusi malam itupun menjadi terasa sangat cepat, diselingi tawa karena kelucuan–kelucuan yang muncul. Tidak lupa juga, kami menikmati teh panas, pisang goreng, bakpia, dan resoles yang disuguhkan tuan rumah. Enak sekali rasanya.

Akhirnya, setelah jam melewati pukul 22, kami pun berdoa penutup majlis. Saat pamit di luar rumah, aku masih sempat berbicang dengan Pak Dana. Ternyata ia baru tiga tahun yang lalu tinggal di Pakem. Uniknya, baru tiga tahun di Pakem, kontribusinya dalam amar ma’ruf layak diacungi jempol. Betapa tidak, kini hampir setiap hari, dua puluhan anak sekolah dari berbagai kampung datang ke rumahnya dari bakda Maghrib sampai Isya’ untuk mengaji Iqro’ maupun Alquran. Pak Dana adalah buruh peternakan seperti Pak Hari.

Kembali aku menembus malam dengan hondaku, menyusuri jalan–jalan sawah yang gelap dan jalan raya Turi Pakem yang lengang. Hatiku terasa lebih cerah, meski langit saat itu mendung. Pada sebuah jalanan menanjak, sejenak kulirikkan mataku ke arah kiri. Dan, sekilas tampak kelap-kelip lampu kota, pertanda saat itu aku berada jauh di atas ketinggian. Dan, pada saat seperti itulah, hatiku sering bergetar, batinku terasa gerimis, dan mataku basah. Ternyata di sini, di sepanjang lereng Merapi, dengan segala keterbatasannya, geliat dakwah Islam terus melaju dengan pasti menuju kejayaannya.

Saat aku tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Besok pagi aku harus kembali mengajar di sekolah, batinku.

*Salam untuk istriku yang selalu setia membukakan pintu rumah untukku, meski harus terbangun dari tidurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar