DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Sabtu, 14 Januari 2012

Meneladani Rasulullah

Bismilaah, alhamdulilaah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada murabbi (pendidik) terbaik sepanjang jaman, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, shahabat dan seluruh pengikutnya. Amin.

Saudaraku yang semoga selalu bahagia,
Hampir setiap muslim akan mejawab Rasulullah Muhammad saat ditanya siapakah figur yang paling layak diteladani pribadi dan kehidupannya. Karena ayatnya jelas seting kita baca dan kita dengar :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab (33) : 21.

Maka kemudian kita makan seperti cara beliau makan. Kita minum dengan posisik duduk dan tidak berdiri karena beliau mencontohkan demikian. Kita tidak marah karena Rasulullah menjanjikan surga bagi yang mampu menahannya. Kita lakukan shalat tahajud sebagai tambahan amal karena bagi diri pribadi rasu itu adalah sebuah kewajiban.

Tidak ada yang salah dalam pengertian-pengertian di atas. Bahkan semuanya adalah kebenaran. Namun, terkadang kita lupa memperhatikan ayat berikutnya :

“Dan ingatlah tatkala ornag-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (dalam perang Ahzab) mereka berkata : Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” QS Al Ahzab : 22.

Saudaraku,

Dalam keadaan mencekam, heningnya malam di medan pertempuran, sementara angin gurun berhembus kuat menerbangkan ribuan pasir hingga unta pun kelilipen, sesuatu yang jarang dijumpai, suara Rasulullah terasa berat didengarkan: “Siapa yang ingin menjadikan aku sebagai teman di surga, silahkan berdiri?”. Tidak seperti biasanya para sahabat berebut menjawab bahkan sebelum pertanyaan itu selelsai diucapkan. Kali ini tidak. Bahkan Rasul mengulang hingga tiga kali ssesuatu yang amat tidak wajar. Dan tetap tidak ada satupun yang mengacungkan tangannya.

Sungguh amat berat. Sekalibun shahabat pun harus berpikir ulang untuk menyanggupi tantangan Rasulullah kali ini. Karena memang amat jelas konsekuensinya. Kaum kafir telah mengepung mereka dan amat kuatnya. Hingga sebuah keputusan diambil beliau: “wahai Huzaifah, berdirilah”.

Huzaifah pun akhirnya menjadi telik sandi paling ulung, paling terkenal dalam sirah nabi. Betapa tidak. Ia diperintahkan Rasulullah untuk menerbos dan menyusup ke barisan musuh. Dan ia berhasil menjalankan misinya. Ia mampu mengetahui seluruh kekuatan musuh. Bahkan ia berdiri di tengah-tenagh pasukan kafir ketika Abu Sufyan memperingatkan pasukannya : “Berhati-hatilah, dalam keadaan gelap gulita dan badai yangkencnag ini, dangat mungkin mata-mata pasukan muslimin berada di tengah-tengah kita. Pastikan kalian tahu siapa yang di samping kanan-kirinya.”

Allah SWT menyelamatkannya. Ketenangan dan kecerdasan yang diberikan Allah kepadanya ia gunakan dengan baik. Ia segera bertanya ke samping kanan dan kirinya dan kembali diam sehingga tidak ada orang yang menanyainya.

Saudaraku di jalan Allah,

Karenanya, keteladanan Rasulullah tidak hanya berhenti dalam masalah-masalah ibadah saja. Tetapi keteladanan itu juga harus maujud dalam pola pemikiran kita, sikap mental kita, akhlaq dan semangat hidup kita. Juga dalam seluruh aspek kehidupan kita. Beliau adalah teladan dalam bidang ekonomi, karena ia adalah seorang penguasa sukses. Beliau adalah teladan dalam bidang politik, karena ia menjadi pemimpin negara tersukses di dunia dan mampu membangun negara Madaniyyah dalam kurun waktu kurang dari 15 tahun.

Ia juga adalah orang tua yang bijaksana, seorang guru yang penyayang dan panglima perang yang pemberani. Dan itu semua dapat kita teladani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar