DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Selasa, 07 Juni 2011

Mereka Telah Merebut Kesempatan Itu

Matahari beranjak naik dari sebelah timur. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Saat untuk istirahat pertama telah tiba. Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara. Pada hari itu akan diadakan pameran hasta karya para siswa yang dibuat selama liburan akhir semester kemarin. Hati kami mulai gerimis. Kami menyaksikan anak – anak generasi baru sekolah kami itu, dengan bangganya, membawa hasta karya yang mereka buat ke halaman sekolah. Sesaat setelah kami menyiapkan beberapa meja, langsung saja meja itu penuh dengan karya – karya mereka, sehingga terpaksa kami menambah lagi beberapa meja. Akhirnya, halaman sekolah penuh dengan meja dan karya – karya sejarah mereka. Para siswa segera mengumpul, mendekat dan mengamati satu per satu hasta karya yang sangat beragam itu.


Semakin banyak siswa yang menuju ke halaman, menyaksikan dan mengapresiasi hasil karya teman – teman mereka. Berbagai jenis pesawat, mobil dan mainan anak pun menghiasi halaman sekolah. Riuh sekali suasana pameran hasta karya itu. Betapa sangat antusiasnya para siswa mengamati dan mengagumi buah karya teman – teman mereka sendiri. Mereka sangat kagum, termasuk para guru yang ikut menilai dan menata karya – karya bernilai itu.

Sederhana memang acara hari itu. Kami sangat yakin akibatnya tidaklah sederhana, namun akan sangat besar artinya bagi masa depan mereka. Anak – anak polos itu telah berhasil merebut kesempatan emas mengisi hari – hari libur dengan buah yang nyata. Karena, memang kesempatan tidak mesti datang untuk kedua kalinya. Entah, kapan lagi anak – anak itu akan membuat model pesawat terbang dengan antusias dan gembira. Belum tentu lima tahun lagi mereka akan menjumpai lomba serupa.

Gerimis di hati kami semakin deras. Rasanya, kami tidak bosan – bosannya melihat hasil karya mereka. Bahkan, sampai bunyi bel masuk tanda pelajaran dimulai kembali pun, serasa hati kami masih berada di halaman sekolah. Bukan lagi untuk mengagumi karya – karya itu, namun ingin rasanya, kami berada terus bersama mereka, membersamai mereka menempuh hari – hari ke depan, dengan kesuksesan – kesuksesan nyata. Kami ingin mengatakan kepada mereka, generasi pejuang yang telah datang kepada kami dengan segala kekuatannya, bahwa mereka telah berhasil merebut kesempatan itu.

Mereka telah berbuat kebaikan untuk mereka sendiri. Mereka telah mengasah potensi, membangunkan talenta besar yang bisa jadi tidak akan pernah muncul bila tidak menjumpai lomba liburan ini. Otak mereka sekali lagi telah terasah, berfikir model pesawat apa yang akan mereka buat. Dari bahan apa saja yang bisa mereka gunakan untuk menyusun model pesawat yang telah dirancang. Dari mana harus memulainya. Tangan, kaki, mata, telinga mereka menjadi lebih aktif dengan tugas hasta karya ini. Hati mereka, pelan tapi pasti, mulai menyatu, tenggelam dalam asyiknya membuat sesuatu yang amat berharga, bukan bentuk barangnya, tapi nilai sejarah yang akan mereka ciptakan dengan tangan mereka sendiri.

Bahwa anak – anak yang hari ini telah menuntaskan tugas membuat model pesawat terbang, mobil – mobilan, kincir angin, balon udara, rumah – rumahan, robot sederhana, patung kepiting, ataupun permainan yang lain sesungguhnya telah menggoreskan satu buah garis lurus dalam lembaran putih hidup mereka. Kelak saat mereka menempuh kuliah, sebagian di antara mereka sangat boleh jadi akan masuk ke jurusan tehnik penerbangan, tehnik otomotif, tehnik mesin, tehnik sipil, tehnik arsitektur, kedokteran, fisika maupun biologi. Maka, acara sederhana mereka hari itu boleh jadi akan menjadi acara kenangan indah mereka. Bahwa mereka bisa dan berguna. Bahwa talenta mereka telah terbangun dan terasah dengan baik di sekolah Islam ini.

Kami menjadi teringat kepada salah satu siswa generasi pertama sekolah ini. Ketika sekolah mengadakan lomba liburan, membuat model kapal nusantara, ia dengan antusias mengerjakannya. Hal itu tampak dari buah karyanya, sebuah model kapal yang elok, dengan layar terkembang terbuat dari clumpring (pembungkus) batang pohon bambu. Wajar saja, ia berhasil meraih juara umum dan berhak atas trophy tetap dari sekolah. Di lain kesempatan, sekolah mendapat undangan lomba yang sama di tingkat kecamatan. Dengan persiapan yang sangat sempit, kami mengamanahkan kepadanya untuk mengikuti lomba tersebut. Sehari menjelang lomba, orang tua dari siswa tersebut sempat mengebel saya, agar sang anak tidak jadi mengikuti lomba tersebut, karena waktu persiapannya yang sangat terbatas. Dan, kami sukses menyakinkannya.

Pada pagi harinya kami antar anak tersebut ke medan laga, dengan bahan – bahan seadanya, dari barang – barang bekas sesuai ketentuan lomba. Siang harinya kami mendapat berita, ia berhasil meraih juara III dan membawa pulang sebuah trophy yang sangat indah. Guru yang mengantar lomba saja, hanya geleng – geleng kepala seolah tidak percaya dengan sukses besar itu.

Kini, setiap kami menatap trophy itu di kantor sekolah, hati kami selalu berdesir, seolah mengatakan pada nurani kami sendiri, jangan pernah berhenti berkreasi, membangunkan talenta dan potensi anak – anak negeri. Bahwa talenta itu sangat mahal harganya. Bahwa pendidikan bertugas menyemai talenta itu menjadi kekuatan besar bagi setiap anak. Bahwa orang tua mereka begitu peduli dengan pendidikan anak - anaknya. Bahwa, mereka telah berhasil merebut kesempatan, maju satu langkah dari generasi seusianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar