DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Selasa, 07 Juni 2011

Menyongsong Sebuah Cerita Kemenangan

Generasi ketiga Bakti Insani akan segera lahir. Sebagaimana kelahiran pertama dan kedua, kelahiran ketiga ini pun selalu ditunggu dengan penuh minat dan suka cita. Wajah–wajah sumringah, mata–mata yang lebar penuh optimis selalu dijumpai dalam kesempatan langka seperti ini. Mereka telah mencicil kemenangan, menyimpan bahagia dalam hati yang paling dalam, bahwa sebentar lagi anak mereka, generasi yang sengaja disiapkan untuk jaman ini, akan segera tiba dan melihat indahnya dunia.



Mereka berjumlah 30 siswa. Merekalah generasi yang sangat beruntung, karena hadir dalam waktu yang sangat tepat di tahun 2005. Karena, saya masih ingat, betapa kami harus melepas seorang anak yang berbakat, yang orang tuanya begitu ingin menjadi bagian dari sekolah Islam ini, hanya karena daya tampung satu kelas sudah terpenuhi. Kami tidak mungkin untuk menambahnya, meski dengan satu anak pun. Saya masih terngiang wajah sedih ibunya dengan jawaban yang saya berikan. 
Bersamaan dengan hadirnya generasi ketiga itu, sekolah ini terus berbenah diri. Pada tahun pertama mereka disambut oleh seorang guru penuh bakat, Bu Ning Suryani, aktifis OSIS SMAN 1 Yogyakarta dan alumni UGM yang mendedikasipun ilmuya di sekolah ini hingga tahun 2008.

Selanjutnya, bersama para guru dan pegawai termasuk Pak Satpam yang jarang tidak hadir, mereka melewati masa–masa penting usia dini, hingga hari ini di tahun 2011. Tidak sekedar belajar di bangku–bangku kelas. Tidak hanya membaca buku pelajaran dan menulis di buku catatan. Selama enam tahun, mereka telah melukis gambar yang indah di hati mereka. Lukisan yang penuh dengan warna-warni, suka-duka, namun penuh makna. Lukisan yang sanggup memenuhi rongga dada mereka, yang dengannya, mereka sanggup menatap dunia.

Mereka benar-benar telah sukses belajar. Belajar bahwa “belajar” adalah sepanjang waktu dan dimanapun berada. Bahwa belajar tidak sekedar menghafal pelajaran. Bahwa belajar tidak sekedar karena besok pagi ada ulangan. Bahwa belajar tidak hanya mengerjakan PR untuk dikumpulkan pada hari yang lain.

Mereka telah belajar di tempat wudhu, di kamar mandi, di musholla, di perpustakaan, di lab komputer, di emperan kelas bahkan di tengah keramaian pasar Sleman. Mereka pun bisa belajar tanpa membawa pensil dan memegang buku catatan. Mereka belajar dengan mata mereka, tangan mereka, kaki mereka dan tentu saja hati mereka yang masih putih.

Lihatlah foto-foto album sekolah. Mereka pernah kemah, outbound, mabit, manasik haji, studi tour, porsenitas dan lomba mewakili sekolah. Maka wajah-wajah mereka adalah pelita bagi gelapnya dunia ini. Semangat mereka adalah harapan bagi umat yang sedang berduka merindukan perubahan. Bahwa ayunan langkah mereka ke depan adalah tanda-tanda akan lahirnya sebuah kejayaan.

Ada perjumpaan, ada pula perpisahan. Kita memang sangat bahagia di hari pertama mereka sekolah di sekolah Islam ini. Dan kini, kebahagiaan itu terasa hampir menuju puncaknya. Kita tinggal menghitung hari, sebelum nantinya mereka harus berpisah dengan kami. Perpisahan yang juga dipenuhi bahagia.

Selamat mengikuti UASBN anakku. Doa dan restu kami selalu membersamaimu. Kalian adalah generasi baru yang dilahirkan untuk umat ini. Kalian adalah hamba-hamba Allah yang beruntung, yang telah dipilih Allah menjadi bagian dari sejarah sukses sekolah ini.

Sesungguhnya ujian yang besar telah kalian jalani. Ujian kehidupan yang berlangsung selama enam tahun sejak kalian bersekolah di sini. Ujian yang soalnya diberikan langsung oleh Allah. Bukankah kalian sudah diuji dengan nikmat sehat, nikmat kesempatan, rasa marah, hati kecewa, keberhasilan, jiwa yang sedih dan khawatir.

Allah telah menguji kalian dengan gempa bumi di tahun 2006. Hari itu sekolah ini harus bubar dan kalian diajak guru berjalan sambil berdzikir ke jalan raya karena isu tsunami. Beberapa foto diabadikan, menjadi saksi bagaimana kita semua panik harus pergi ke mana. Sekolah ini sekali lagi harus bubar sebelum bel pulang berbunyi, karena Gunung Merapi meletus pagi itu. Asap yang membumbung tinggi memaksa sekolah menginstruksikan semua siswa dan guru untuk keluar kelas dan memakai masker penutup hidung.

Masih banyak ujian–ujian lain yang semuanya telah berhasil kalian lewati. Adapun UASBN ini, adalah hanya salah satu ujian yang mesti kita lewati. Karenanya, hanya ada satu pilihan untuk ini : maju, hadapi, selesaikan, dan kemenangan itu ada di tangan. Adapun kebahagiaan yang hakiki selalu bersemayam di dalam hati

Sukses mulia anakku. Kunanti khabarmu enam tahun lagi. Saat itu, kalian sudah kuliah, menjadi seorang mahasiswa. Rubahlah wajah dunia ini dengan tanganmu, anakku ! Amin. 
(Adib Nur Aziz, sekretaris YBI)

1 komentar:

  1. yang pernah belajar di bakti insani2 Januari 2012 08.03

    Selamat dan sukses untuk keluarga besar SDIT Baktai Insani. Maju terus memajukan pendidikan di Sleman . Doa kami selalu.

    BalasHapus