DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Selasa, 07 Juni 2011

Catatan perjalanan: Menaruh Harapan di Gunung Kidul

MENARUH HARAPAN DI GUNUNGKIDUL


Gunungkidul bukanlah tempat yang asing bagi warga Sleman, karena keduanya saling berbatasan wilayah. Namun, keadaan alam telah membuat Sleman dan Gunungkidul berbeda dalam perkembangannya. Gunungkidul yang kita kenal adalah daerah tandus, sulit air dan keadaan geogrrafis yang penuh bukit dan lembah, plus sungai – sungai bawah tanah yang berair deras serta menyimpan banyak misteri. Satu lagi, Gunung Kidul kini menjadi taman menara, karena puluhan tower-menara televisi maupun jaringan telepon seluler bertebaran di puncak – puncak bukit yang sinyalnya mampu menjangkau wilayah – wilayah di Jogjakarta.


Saat ini, orang – orang lebih sering datang ke Gunungkidul untuk berlibur di Pantai Baron atau Kukup. Kalau tidak, mungkin ada ribuan warga Sleman, Bantul dan Kota Yogya yang setiap hari melaju baik naik kendaraan maupun angkutan bus naik turun perbukitan di Gunung Kidul untuk menjalani tugas negara sebagai guru, pegawai pemerintah, angkatan bersenjata, ataupun menekuni usaha–usaha bisnis.

Ketika kendaraan roda dua yang saya tumpangi mulai melewati jalan Jogja – Wonosari, berbagai hal mampir di pikiran. Jarak 60-an km dari Sleman sebenarnya bukan jarak yang jauh, dan bisa ditempuh selama 90 menit dengan laju yang santai. Namun, karena jarang ke sana, perjalanan itupun menjadi amat menyenangkan.

Memasuki kota Wonosari, dari pertigaan SMKN 2 Wonosari, kendaraan fit-X yang saya naiki berbelok ke arah kiri sekitar 200 meter. Masuklah saya di sebuah kompleks sekolah yang diselenggarakan oleh Yayasan Bina Umat Mulia. Sebuah kompleks pendidikan yang amat luas, sekitar 4.500 meter persegi. Seperti biasa di setiap kunjungan saya ke sekolah – sekolah JSIT, sambutan hangat dari para guru sejak awal sudah terasa, dan sejenak, melupakan hawa panas yang mulai menyengat tubuh. Gunungkidul memang panas kalau di siang hari. Saya segera bergegas memasuki ruang pertemuan hari itu. Selang beberapa saat, acara dimulai hingga berakhirnya pukul 14.30 WIB.

Waktu 5 jam di tempat itu tidaklah terasa lama. Suara meriah anak – anak yang tadi saya dengar di pagi hari sudah lenyap. Sekolah ini sudah kembali sepi. Tinggal para guru yang masih bertahan di sekolah menunggu dan mengantarkan kepulangan kami. Maklum saja, ada dua ibu kepala sekolah SDIT dari Kota Jogjakarta dan Kalasan yang berangkat ke sekolah itu dengan naik bus. Jadi, keduanya harus diantarkan ke jalan raya Wonosari – Jogja untuk naik bus lagi dalam perjalanan pulangnya. Sebuah wujud semangat dari guru SDIT yang layak diparesiasi untuk sebuah silaturahmi dan kemajuan pendidikan Islam Terpadu.

Lima jam di sekolah itu menjadi sangat mahal harganya. Di atas lahan sekolah itu telah berdiri satu buah masjid dan puluhan ruang kelas dari kelompok balita, TK hingga kelas 6 SDIT. Menurut kepala sekolah SDIT-nya, Pak Sumedi yang sudah merampungkan S2 , saat ini sekitar 500 anak bangsa setiap harinya mencari ilmu di sekolah itu. Dengan rincian : 80 kelompok balita, 200 TKIT dan 250 SDIT. Sebuah jumlah yang amat besar untuk sebuah sekolah swasta yang mulai dirintis pada tahun 2000an.

Sebuah pengalaman telah diperoleh dari sekolah ini, untuk dibawa pulang ke Sleman. Satu lagi harapan telah tumbuh di negeri ini. Tidak lengkap rasanya pergi ke Gunungkidul, sebelum mampir di sekolah peradaban ini.

1 komentar:

  1. anggota JSIT DIY2 Januari 2012 08.08

    Salam hangat untuk Ustadz Sumedi dan kawan - kawan yang berjuang di Gunung Kidul. Jazakallah telah menyapa kami di pelosok - pelosok Yogyakarta ini. Kami rindu kahadiran Ustadz di tempat kami.

    BalasHapus