DARI LERENG MERAPI, KAMI SAMPAIKAN SELAMAT DATANG. SELAMAT DAN SEMANGAT BERKARYA.
SIAPA BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI AKAN BERHASIL

Apakah Saudara suka dengan blog ini?

Selasa, 07 Juni 2011

Laskar Pelangi di Bakti Insani

Hari ini adalah hari Rabu tanggal 13 Mei 1009. Suasana sekolah berjalan seperti hari – hari biasa. Para siswa, guru, penjaga sekolah seperti biasa tersenyum tulus untuk sebuah perjuangan besar. Para siswa kelas 6 telah pulang dari medan perjuangan. Senyum gembira dan lega terpancar dari wajah – wajah cerah yang sering terusap oleh air wudhu. Langkah – langkah mantap mereka seolah mengatakan bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. Meski, tetap saja ada siswa yang usil menggoda sesama temannya hingga menangis meski hanya sekedar canda dan lantas saya tegur dengan cukup tegas. Bagaimanapun, mereka masih anak – anak yang baru akan beranjak dewasa. 



Sebuah surat dari SMPN 4 Pakem yang ditujukan kepada Mas Amri mampir di meja kerja. Mas Amri Rahmad Insani adalah siswa kelas 6, berkaca mata, yang telah mengikuti seleksi penerimaan peserta didik baru di sekolah Rintisan Bertaraf Internasional itu. Segera saja surat itu saya bawa ke ruang kelas 6. Disaksikan para siswa kelas 6, kubuka amplop dan kuperlihatkan tulisan besar di dalam isi surat itu : “ Diterima “. Para siswa kelas 6 bersorak. Seolah merekalah yang dterima di sekolah itu. Maklum saja, kebersamaan mereka selama 6 tahun di sekolah ini dalam berbagai situasi telah membuat mereka begitu kompak dan solid. Mas Amri tercengang, sejenak menahan nafas sebelum bersyukur atas keberhasilannya diterima di sekolah itu. Saya pun menyalaminya sambil mengucapkan selamat, dan diikuti teman – temannya yang lain.

Sebelumnya, Pak Budi, bapaknya Mbak Ifa yang turut andil membesarkan sekolah ini di masa – masa sulit, datang di depan gerbang sekolah. Saya menyapanya tentang hasil seleksi di Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional SMPN 1 Sleman. Mbak Ifa dan Mas Amtsal belum diterima di sana. Namun mereka berdua masih bisa mencoba lagi masuk di sekolah itu besok saat penerimaan siswa baru reguler yang masih membuka 4 kelas. Semoga saja Nilai UASBN mereka mencukupi untuk masuk ke SMPN 1 Sleman, yang juga adalah almamater saya. Adapun Mas Amtsal sebelumnya juga sudah mengikuti seleksi di SMPIT Abu bakar Yogyakarta,sebuah sekolah lanjutan favorit di kota pelajar, dan dinyatakan diterima. Selain Mas Amtsal, ada dua siswa lagi yang juga sudah dinyatakan diterima di sana, yaitu Mbak Ani putri Bapak Muslih Muqoddas,SH pengawas Yayasan Bakti Insani, dan Mas Azhar, putra Bapak Kusnanto, SH, ketua Yayasan Bakti Insani.

Hari ini sesungguhnya hari yang amat istimewa. Hari di mana seorang guru telah berkaca – kaca matanya, tanda syukur dan kelegaan. Membersamai generasi pertama SDIT Bakti Insani dalam suka dan duka adalah pengalaman yang tidak akan pernah terulang kembali di masa yang akan datang. Apalagi, kebersamaan yang penuh dengan warna dan kisah – kisah mengharu biru, tawa, serius dan tangis, termasuk tegang saat isu tsunami beberapa jam setelah gempa di Yogya akhir Mei 2006. Kebersamaan yang akan terus dirindu dan dikenang oleh orang – orang yang telah terlibat di dalamnya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.

Saya ingin mengatakan bahwa novel laskar pelangi boleh jadi adalah kisah fiksi. Tetapi kisah – kisah di dalamnya seakan – akan telah dialami sendiri oleh generasi pertama Bakti Insani itu. Cerita tentang keterbatasan sarana, minimnya dana dan fasilitas, wawasan yang amat terbatas, tidak bisa menghalangi sejarah keberhasilan yang Allah takdirkan. Bahwa bersekolah di serambi masjid agung, belajar di ruang kelas yang sudah tua meski dioles kembali cat temboknya bukan menjadi penghalang para siswa laskar pelangi Bakti Insani untuk maju memimpin peradaban. Bahwa para siswa dari sekolah Islam yang masih baru dan belum terakreditasi karena belum punya lulusan, yang dirintis dan dibangun dengan penuh kesadaran akan amanah sejarah dan tanggung jawab peradaban layak untuk mendapatkan amanah umat di masa yang akan datang.

Sejak prestasi demi prestasi itu lahir dari laskar pelangi, pelan tapi pasti telah membukakan mata banyak orang. Keberhasilan Mas Alfian menembus tingkat Propinsi DIY dalam Olimpiade IPA tahun 2008 telah menggemakan suasana yang lain di lingkungan SD se-kecamatan Sleman. Dan prestasi terakhir mereka, dengan meraih rangking pertama hasil Latihan UASBN SD se-kecamatan Sleman dan rangking ke-20 se-DIY seolah menegaskan bahwa laskar pelangi itu benar – benar ada di Bakti Insani. Laskar pelangi yang sama sekali tidak bermaksud menyaingi atau mengalahkan SD Negeri Andalan atau SD swasta megah berlantai tiga, tetapi laskar pelangi yang berkeinginan kuat meraih tiket menuliskan tinta emas sejarah peradaban. Laskar pelangi yang tidak akan pernah putus asa, dendam apalagi benci dengan berbagai penghalang dan rintangan yang menghadang langkah maju, tetapi laskar pelangi yang sangat berharap merekalah yang akan menjadi pemegang kunci kebangkitan negeri di masa yang akan datang. Amin.

1 komentar:

  1. Mantap. Sebuah kisah merintis sekolah yang menarik dan penuh warna. Bagaimana kalo dibuat film seperti laskar pelangi?

    BalasHapus